You have any nice weird, scary, or bizzare stories? contact me and ill share it! Email : indramahad@gmail.com Facebook : indra_mahad@yahoo.com
Senin, 11 Maret 2013
HELL RISING
Pagi terasa seperti biasanya, Rendra seorang sherif sedang bangun dan bersiap-siap ke markas. "Pagi ini sungguh menyegarkan... fuhh..." kata rendra sambil menghela nafas. Rendra pun pergi untuk menjalani harinya seperti biasa, di pergi menggunaka sepedah motornya yang sudah butut. Terdengar suara di radio yang akan mengubah harinya, "kepada seluruh unit!, harap mengejar tersangka di antara blok b street avenue dengan blok z street avenged, tersangka berbahaya dan membawa senjata jenis revolver". "Sial! padahal ini pagi yang indah, baiklah... maju!! kebetulan itu hanya 3 blok dari sini" rendra pun melesat dengan sepedah motornya dengan kencang. Tersangka sudah di depan mata, rendra pun mengeluarkan pistol yang ada di pinggangnya dan menembaki mobil yang sedang dikendarai oleh tersangka. "DOR! DOR! DOR!" 3 suara tembakan dari pistol semi otomatis milik rendra yang langsung membuat mobil itu tidak seimbang dan terguling. Semua petugas pun sampai di tempat kejadian, tersangka terkepung. Tersangka keluar dari mobil yang sudah terbalik dan menembakan timah panas kearah polisi, rendra berhasil melumpuhkan tersangka dengan satu tembakan, namun dia juga terkena timah panas dari revolver tersangka. Perlahan mata rendra tertutup, dia memegangi dadanya yang berdarah, akhirnya rendra pun pingsan, lantas seluruh petugas yang berada di tempat kejadian membawa rendra ke ambulan.
Mata rendra perlahan terbuka, dia terbangun di sebuah ruangan ICU. "Ah... sepertinya luka ku sudah sembuh... tapi sudah berapa lama aku pingsan?" tanyanya kepada diri sendiri. Dia pun berdiri dan mengambil bajunya di kursi putih dekat tempat tidurnya, dia mengenakan baju sherifnya dan ingin keluar ruangan. Di lorong dia melihat banyak kekacauan, dimana-mana ada darah... tapi tidak ada mayatnya. "A, apa yang terjadi?!" katanya terkejut. Rendra segera mengambil pistolnya yang berada di pinggannya, mengisi dan mengokangnya. Dia berjalan menuju anak tangga yang berada di ujung lobi. Dia segera menuruni anak tanggan satu persatu dengan hati-hati. Dia pun sampai diluar rumah sakit van dreas. Rendra hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya, dia melihat ada banyak mayat hidup di jalan. Awalnya ia senang karena melihat ada banyak orang di depannya namun ketika dia melihat dengan baik-baik, akhirnya semuanya terasa jelas, ini mayat hidup. Rendra segera bersembunyi di balik tembok, "apa-apan ini!?" katanya. Jantungnya berdetak dengan kencang, di depannya ada secarik kertas, dia pun mengambil kertas itu dan membacanya. Kertas itu adalah surat edaran yang di bagikan hibrid corp. yang berisi tentang kebocoran gas beracun diselatan yang membuat sistem kekebalan tubuh merendah dan membuat orang terkena penyakit yang hampir mirip dengan rabies namun lebih berbahaya. "Apakah ini penyebabnya? sial sepertinya ini akan sangat menyusahkan!" gumannya. Tiba-tiba di depanya ada satu mayat hidup yang bersiap untuk memaknya. "Dar!" suara pistol yang melesatkan peluru timah panas kearah kepalah mayat itu, dan peluru itu menmbus kepala mayat hidup itu. Mayat itu pun terjatuh tidak bergerak, "sepertinya kau sudah mati kawan!" teriaknya. Suara tembakan dan teriakannya sudah cukup untuk membuat mayat hidup yang berada di jalan untuk menyerang rendra, namun karena jalan mereka lamban rendra pun berhasil kabur dan selamat. Rendra berlari kearah markas polisi.
Setelah melewati blok sepora, dia akhirnya sampai di kantor polisi. Dia masuk dan mencari apakah ada yang selamat, namun yang dia temukan hanyalah mayat-mayat yang sudah tergeletak tidak berdaya. Didepannya ada mayat hidup yang sudah terinfeksi. "Hendra, maafkan aku..." katanya. Rendra pun melepaskan tembakan kearah kepala hendara, kepala hendra pun tertembus timah panas dan akhirnya membuat hendra tergeletak tidak berdaya. Kegilaan yang tidak dapat dimengerti oleh rendra, menimbulkan berbagai pertanyaan, salah satunya, mengapa ini bisa terjadi?, siapa dalang dibalik semua ini?, dan sebagainya. Tanpa pikir panjang, ia pergi ke ruang artileri ringan-berat, dia memasukan beberapa senapan serbu, pistol, hunting rifle dengan huntingscope, magazine dan peluru yang cukup banyak, lasersight, flashlight, reflexsight, dan 2 buah pisau komando. Hal pertama yang akan dia lakukan adalah mencari orang yang selamat (surviovor) dari kejdaian mengerikan ini sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Kalau begini, aku akan mencari orang yang selamat di daerah solvoski dulu..." katanya sambil membawa tasnya dan pergi dari kantor polisi. Di perjalanan ia bertemu dengan steven, seorang tukang kebun yang berhasil menyelamatkan dirinya dari kejaran zombie tadi malam. Steve sendiri juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang ini. Merekapun berkenalan, "hei, apa kau tidak apa-apa? perkenalkan, namaku rendra" kata rendra sambil menjabat tangan dengan steve. "Oh, nama ku steve, hei rendra, sebenarnya apa yang terjadi? mengapa semua orang menjadi seperti zombie? padahal sebelumnya semua baik-baik saja" tanya steve. "Aku pun tidak tahu, ini, gunakan senapan ini untuk menjaga dirimu, apakah kau mau ikut bersamaku untuk mencari orang yang mungkin selamat?" tawar rendra. "Karena tidak ada hal yang bisa kulakukan... aku akan ikut dengan mu, lagi pula hanya kau manusia yang bisa ku temui" kata steve. Mereka pun pergi dan mencari lagi di wilayah street avenue sambil berteriak, "HALO!!! apa ada yang selamat disini?" mereka berteriak kesana kemari. Dari belakang mobil muncul anak perempuan, namun setelah mereka melihat dengan baik ternyata anak itu adalah zombie!. "Aku akan menembaknya!" kata rendra. "Hei! apa kau sudah gila!? itu kan hanya anak-anak!" kata steve. "Baiklah... dia sedang menuju kemari, kau saja yang tembak... tembak! atau mati!" gertak rendra. "K,kkkau... baiklah... ini demi keselamatan jiwa anak itu.." kata steve. Steve mengarahkan senapannya ke arah anak itu, "Trttttt!!!!" suara tembakan steve, anak itu terpental hingga 5 meter. "Kurasa dia sudah tewas..." kata steve. Tiba-tiba anak itu bangun lagi dan segera berlari kearah mereka. "Pastikan kau menembak kepalanya steve!!!" teriak rendra. Steve pun segera membidik kearah kepala anak itu, "TAR!" kepala anak itu hancur dan anak itu pun akhirnya mati untuk yang kedua kalinya.
Malampun tiba, mereka segera mencari tempat untuk bersembunyi. Mereka memilih untuk bermalam di hotel melawai. Rendra dan Steve berjalan melalui street avenue, mereka berjalan di tengah jalan. Di sepanjang jalan ada banyak zombie yang pergi kearah mereka berdua. "Hei steve, apa kau siap?" tanya rendra sambil memegang senapa serbunya. "Aku siap kapanpun kau siap..." jawab steve. "Baik.. ayo!" teriak rendra. "Hei bajingan!" teriak rendra. "Trtttttt!!!!!" tembakan rendra yang membabi buta membuat keributan yang memancing banyak zombie. Steve segera berlari ke arah rendra dan menarik hendra ke arah gang kecil. "Rendra ayao kita naik ke atap!" kata steve. Mereka pun menaiki tangga itu dan menembaki zombie dari atas gedung. 5 jam berlalu, zombie itu belum pergi juga, steve dan rendra tetap bertahan dan akhirnya memutuskan untuk bermalam di atap itu. "Hei, ayo kita turun! spertinya mereka sudah pergi, ayo kita sarapan... disana ada kedai kopi... ayo bangun!" suruh rendra. "Ah? sudah pagi yah? baiklah... ayo kita sarapan" kata steve. Mereka pun sampai di kedai kopi tersebut tanpa ada halangan dari zombie-zombie. Steve segera mengambil makanan yang sudah agak dingin dari kulkasi di kedai itu dan memanaskannya dengan oven. Mereka berdua duduk di tempat duduk dekat jendela kedai, "steve, coba kau lihat para zombie itu, sepertinya mereka menjadi manusia bodoh... hahahha" canda rendra sambil menunjuk para zombie yang sedang berjalan. "Hahahah..... kamu benar, jadi bagaimana kau bisa selamat? apakah kau punya keluarga rendra?" tanya steve. "Sebenarnya aku ini adalah sehrif di kota ini, namun aku tertembak saat bertugas dan terbangun di rumah sakit, tentang keluargaku... aku ini yatim piatu dan aku belum mempunyai isteri, emm.... bagaimana dengan mu? bagai manakau bisa selamat? dan keluargamu" tanya rendra. "Aku sebenarnya sedang berolahraga pagi 3 bulan yang lalu namun tiba-tiba ada banyak zobie yang menyerangku, adik tiriku, john, tergigit dan akhrinya berubah menjadi seperti mereka. Keluarga ku tidak ada yang selamat, aku pun hanya bisa bertahan dirumahku dengan sekop sebagai senjataku, namun mereka dapat mendobrak masuk, jadi akupun pergi dan akhirnya bertemu dengan mu" jawab steve. Saat mereka sedang mengobrol, dari kejauhan steve tidak sengaja melihat ada seorang pria yang sedang berlari karena dikejar oleh zombie. "Hei rendra! check this out! lihat itu sepertinya kita harus membantunya" kata steve. Mereka pun segera bergegas pergi keluar dan memanggil pria itu. "Hei! cepat kau kesini!" teriak rendra kepada pria itu. Saat berlari kearah rendra, tiba-tiba pria itu tersandung batu dan terjatuh, "Steve! tembaki zombie itu! biar aku yang menjemputnya!" perintah rendra. "Oke!" kata seteve sambil mengancungkan jempol. Rendra pun berhasil menggendong pria tersebut dan pergi kearah kedai, zombie yang mengejar lelaki itu sangat banyak sehingga mereka memutuskan untuk masuk kedalam kedai lagi, "ayo kita kembali ke kedai steve!" ajak rendra yang sedang menggendong pria itu.
Merekapun selamat dan berhasil menghalangi pintu kedai dengan meja dan kursi yang ada di kedai. "Hei, siapa namamu?" tanya rendra. "Namaku adalah Zein Hamid, kau bisa memanggilku hamid" jawab hamid. "Baiklah hamid, apakah kau bisa menggunakan senjata ini?" tanya rendra sambil memberikan salah satu senapan yang ada di tasnya. "Tentu saja, aku ini adalah prajurit TNI AD yang sedang berjaga di bukit hulu, tempat konflik terjadi" kata hamid. "Konflik macam apa yang kau maksud?" tanya steve yang sedang mengambil biskuit di kulkas kedai. "Konflik yang menyebabkan semua ini terjadi" jawab hamid. Steve pun segera duduk di dekat rendra dan hamid, "ceritakan dan jelaskan semuanya" pinta steve yang sedang memakan biskuit yang dipegangnya. "Jadi begini ceritanya, ini semua berawal dari ulah perusahaan hibrid corp. sebulan yang lalu yang telah mencemari lingkungan kumuh dengan cairan zetoplasma. Zetoplasma ini adalah sebuah virus yang dapat membuat orang terkena penyakit rabies, awalnya mereka ingin membuat obat yang dapat denga cepat menyembuhkan penyakit kanker. Pada awal pertama percobaan semuanya baik-baik saja, namun pasien yang sudah sembuh dari kanker ini malah menampakan gejala-gejala yang aneh, lama kelamaan dia akhirnya berubah menjadi zombie. Karena ingin membersihkan nama perusahaan, akhrinya mereka membuang zetoplasma ke pemukiman penduduk. Penduduk yang hidupnya tergantung pada sungai akhirnya terinfeksi dan akhrinya tersebarlah virus ini. Cara mereka menginfeksi adalah dengan air liur, bukan dari darah atau pun kotoran. Seorang reporter yang mengetahui hal ini akhirnya di tembak mati dan sebelum ia mati, kami dapat menemukan beberapa rekaman dan jurnal yang membuat kami bisa waspada dan berhati-hati. Di jurnal itu juga tertulis bahwa ada vaksin dan antivirus, vaksin dan antivirus ini dapat mematikan virus yang sudah menyebar didalam tubuh, namun apabila sudah terlewat 23 jam maka infeksi tidak bisa di hentikan. Menurut informasi yang kuketahui, hibrid corp. memiliki beberapa vaksin untuk orang kaya di daerah ini, aku sudah tergigit, tapi tenang saja karena aku sudah memakai vaksin yang ada ditangan reporter itu" begitulah penjelasan hamid. "Baiklah... sepertinya semuanya sudah jelas, dimana letak tempat itu?" tanya rendra serius. "Menurut informasi dari jurnal reporter itu, vaksin itu berada di rumah sakit van dreas" jawab hamid. "Sial! padahal aku terbangun disitu, tapi bukankah disitu tempat yang paling banyak zombienya?" kata rendra. "Iya, mungkin itu disebabkan percobaan vaksin yang salah. Aku juga pernah melihat di jurnal itu bahwa semua pasien-pasien van dreas tanpa sepengetahuan rumah sakit, telah diberi vaksin. Ada beberapa pasien yang secara alami dapat menerima vaksin tersebut, namun ada juga yang malah berubah menjadi zombie, mungkin itulah sebabnya disana ada banyak zombie disana" kata hamid. "Oke... kalau begitu aku akan pergi kesana besok pagi, apa kalian ikut?" tanya rendra. "Aku selalu bersamamu kawan.." kata steve. "Itulah tujuanku" kata hamid. "Baiklah... karena kita sudah mengambil suara dan semuanya setuju, maka besok pagi kita akan menyelinap ke rumah sakit tersebut, jangan lupa untuk menjaga dirimu steve karena kau belum terproteksi oleh vaksin itu" kata rendra. "Apa aku menyusahkan kalian berdua?" tanya steve. "Tidak, kita ini kan teman, jadi kita harus melindungi satu sama lain" kata rendra. Hamid mengeluarkan denah cetak biru rumah sakit van dreas, "baiklah... jadi begini rencananya..." kata hamid sambil membuka denah itu. "Kita akan masuk melalui daerah belakang karena didepan ada banyak zombie, aku sendiri sudah pernah kesitu jadi aku tahu situasi disana, lalu kita akan pergi kearah ruang icu di utara dan mengambil vaksin sebanyak yang kita bisa di lab steril, kemungkinan di lab ini akan ada banyak zombie karena ruang ini, jadi apa kalian setuju?" tanya hamid. "Baiklah kami setuju" jawab steve dan rendra.
Pagi pun tiba, mereka sudah bersiap-siap untuk menyelinap kerumah sakit van dreas. "Hei kawan-kawan, aku ada ide, bagaimana bila kita menggunakan alarm di mobil yang berada di depan rumah sakit untuk mengalihkan perhatian? hah... gimana?" saran rendra. "Oke... kita bisa melemparkan batu kemobil itu untuk menyalakan alarmnya, dengan begitu situasi akan lebih aman" setuju dan tambah hamid. Steve pun keluar dari toilet dengan menggunakan rompi anti peluru yang ringan, pelindung leher, jaket nato berkain antipeluru, pistol 2 buah di pinggangnya, shotgun di punggungnya, dan senapan laras panjang m16 yang sudah siaga, serta ekstra magazine dan peluru. "Woi!, apa kau tidak terlalu berlebihan steve? kalau begini kau sama saja seperti menggunakan pakaian juggernaut mini yang ringan" kata rendra terkejut. "Tenang saja, setelah aku menggunakan vaksin itu, aku akan melepas pakaian ini" kata steve sambil tersenyum. "Kalian siap?" tanya hamid yang sedang bersiap membuka pintu kedai. "Aku sudah siap" kata rendra. "Tunggu sebentar..." kata steve sambil membuka bungkus permen karet dan mengunyahnya, "sip! aku siap!" jawab steve. "Satu, dua, ti...ga" kata hamid. Pintu itu pun terbuka, namun tidak ada zombie diluar, semuanya sepi dan hening. "Hah?, baiklah, kita tidak boleh menyian-yiakan kesempatan ini! ayo kita pergi!" kata hamid. "Tunggu hamid, jangan gegabah... apa kau tidak merasa aneh? ada yang ganjil, ini terlalu sepi. Kita harus berhati-hati, tetap bersama dan jangan terpisah apapun yang terjadi. Kita akan pergi tapi tetap siaga" kata rendra. Mereka pergi melewati sebuah gang, di depan mereka ada tiga zombie, "jangan asal tembak, gunakan peredap!" suruh hendra. "Tebs!" tembakan dari m16 hendra mengenai kepala zombie yang berada di dekat tembok. "Hamid, gunakan hunting rifle yang sudah dipasang peredap milikmu untuk menembak yang berada di ujung gang" perintah rendra. "Baiklah, kalau yang berada di depan ini aku saja yang bunuh" kata steve. "Tebs!" suara tembakan hamid. "Tebs!tebs!tebs!" tembakan steve membuat zombie itu jatuh tak berdaya namun masih hidup karena tidak ditembak kepalanya. "Gunakan pistol yang sudah diberi peredap!" kata hamid. "Baik!" kata steve, steve pun mengeluarkan sebuah pistol yang ada di pinggangnya dan mengarahkannya kearah kepala zombie itu, TEBS!, timah panas menembus kepala zombie itu hingga bolong dan membuat otak zombie itu berceceran. "Rasakan itu!" kata steve. Mereka langsung melanjutkan perjalanan, mereka juga sudah memasang red dot sight/reflexsight dan laser di pistol dan senjata mereka. Mereka sudah sampai di depan rumah sakit, mereka bersembunyi di balik semak-semak dan memantau keadaan. "Itu dia mobilnya, rendra, lemparkan batu ke mobil itu!" suruh steve. "Sabar, kita harus pergi kepintu belakan dulu, baru kita lemparkan batu ini" kata rendra yang sedang menggenggam batu bata. "Baiklah... apa lagi yang kalian tunggu? ayo kita pergi ke pintu belakang" ajak hamid. Tiba-tiba di belakang mereka ada banyak zombie, "HAH!? lari kesana!" kata rendra. "Rencana B!" kata hamid. "Apa itu!?" tanya steve yang sedang berlari. "Ledakkan mobil itu!" kata hamid yang juga sedang berlari ke pintu belakang. Steve pun menembak lubang tangki bahan bakar mobil tersebut, DUAR!, mobil itu meledak, zombie-zombie yang mengejar mereka terpental kasana-kemari. Mereka masuk dari pintu belakang dan menutup pintu tersebut, tanpa sadar di belakang mereka ada banyak zombie. "Mengapa kita malah terjebak dilorong ini!?" kata rendra. "Sial! mereka mengarah ke sini!" kata hamid. "Bersiap menembak!" kata rendra. Mereka melepas peredap yang berada di senapan mereka agar kekuatan tembakan lebih tinggi. "Tembak!!!" kata steve. Mereka pun menembakan tembakan brutal, TRTTTTTT!!!!!, tembakan mereka membuat zombie-zombie tersebut terjatuh dan mati namun dari lorong itu muncul lagi zombie-zombie yang lain. "Kita harus segera pergi dari sini! steve, tembak tabung gas yang berada di disana!" kata rendra, steve pun menembak tabung gas hydro itu, DUAR!, ledakan itu membuat zombie-zombie itu mati seketika, sedangkan mereka terpental ke dinding.
"Rendra! bangun!" kata hamid yang menyeret rendra. Rendra pun berdiri dan segera mengambil m16nya dan mengisi senjata tersebut. "Ayo rendra!, kita pasti bisa melakukan ini! cepat kita pergi sebelum mereka datang lagi!" kata steve. "Baiklah!" kata rendra. Rendra, Hamid, dan Steve pergi melalui tangga darurat, di tangga ada 3 zombie. "Hei, hamid jangan menyia-nyiakan peluru... gunakan kampak darurat yang ada disitu" kata steve. Hamid pun mengambil kampak tersebut dan menebas kepala zombie yang berada di dekatnya dan zombie itu pun terjatuh kelantai dasar dengan kepala terputus. 2 zombie lainnya bersiap untuk menyerang hamid dari belakang, namun, JEB! JEB!, 2 pisau komando yang dilemparkan rendra dan steve menancap kekepala 2 zombie tersebut. "Terimakasih" kata hamid. Hamid mengambil kedua pisau tersebut dan mengembalikan pisau itu ke rendra dan steve. "Ayo, tinggal sedikit lagi kita akan sampai" kata hamid. Dengan sisa peluru yang sedikit (untuk senjata laras panjang), mereka pergi melanjutkan perjuangan untuk mendapatkan vaksin antivirus tersebut. Mereka akhirnya sampai di lab, dilab ini ada banyak vaksin, namun mereka tidak tahu mana vaksin yang benar. "Hmmmm...... yang mana yah?" tanya rendra. "Kurasa yang ini" kata steve. "Hei! jangan sembarangan... kita harus mencarinya dengan benar!" kata hamid. "Tapi disini tertulis "Anti virus, zombie virus" seperti itu" kata steve. "Oh... sory... baiklah, ambil semua vaksin yang ada disitu, dan suntikan satu vaksin untukmu!" kata hamid. "Tunggu!" teriak rendra. "Oh iya, kita harus mencari vaksin yang memiliki label yang sama dengan golongan darahmu" kata hamid. "Nyaris saja..." kata steve. Steve pun menyuntikan vaksin itu dan sekarang ia sudah kebal, namun ia masih saja menggunakan pakaian mini juggernautnya. "Mengapa kau tidak melepas pakaian itu steve?" tanya rendra. "Aku masih menyayangi nyawaku" jawab steve. "Baiklah, sepertinya kita harus segera keluar dari tempat ini, tempat ini akan segera meledak. Kau ingat tentang tabung gas itu? meledaknya tabung gas itu menyebabkan kebakaran yang mengarah kearah ruang penyimpanan gas pembangkit listrik, jadi kita harus segera pergi dari tempat ini" kata hamid. "Sepertinya akan lebih susah keluar dari tempat ini dari pada masuknya..." kata rendra. "Aku hanya memiliki beberapa peluru untuk shotgun dan 5 magazine untuk pistol beretta 93R, magazine untuk m16 sudah habis" kata steve sambil memegang shotgun berjenis mossberg 500 sidewinder. "Sial, magazine ku tinggal 2 buah untuk m16 dan hanya tinggal 3 magazine untuk m9 beretta" kata rendra. "Aku masih memiliki 6 magazine untuk m16 dan hanya 1 round di revolverku" kata hamid. "Apakah kita bisa selamat?" tanya steve berharap. "Tenang, kita semua akan selamat.. jadi tunggu apa lagi? ayo kita pergi dari tempat ini!" ajak rendra. "Menurutku waktu kita hanya tinggal beberapa menit lagi mungkin antara 25-30 menitan" kata hamid.
Steve pun langsung membuka pintu lab rumah sakit sedikit demi sedikit, dia mengintip, ternyata diluar ada 10 zombie yang sedang memakan mayat manusia. "Ayo kita keluar pelan-pelan, jangan berisik dan hemat peluru, karena diluar sana ada 10 zombie yang sedang makan siang" kata steve. Merekapun membuka pintu itu dan keluar dengan pelan-pelan, mereka menelusuri lorong rumah sakit dan menuju tangga darurat, ternyata di tangga darurat ada 2 zombie yang berada di dekat pintu kelantai dasar atau lantai 1. "Jangan! biar aku yang menmbak mereka dengan m9 ku yang sudah di pasang peredap" bisik rendra kepada steve yang hampir menekan pelatuk shotgunnya. "TEBS! TEBS!" tembakan itu mengenai kedua zombie itu, zombie itu jatuh dan tanpa sengaja tangan zombie itu menyentuh alarm kebakaaran, "TEN!!!...", suara alarm itu membuat zombie-zombie yang diluar terpancing masuk kerumah sakit. "Kurang ajar! ayo kita segera pergi lewat pintu belakang! 3 menit lagi tempat ini akan meledak!" kata hamid. Mereka berlari kearah pintu belakang, di belakang mereka ada banyak zombie yang mengejar dan hampir tidak terhitung jumlahnnya, ada zombie yang kepalanya hampir putus, ada juga zombie yang darah dari tangannya berceceran dan darah itu seakan tidak mengganggu si zombie yang sedang berjalan mengejar rendra, hamid, dan steve. Mereka akhirnya sampai di pintu belakang dan segera membuka pintu itu, diluar tidak ada zombie lagi. "AAA!!!!!!" teriak hamid, rendra, dan steve yang segera meloncat keluar karena rumah sakit akan segera meledak. "DUARRR!!!" rumah sakit meledak dan menimbulkan asap yang tebal dan menyesakan, hamid, rendra, serta steve terlempar jauh akibat ledakan tersebut. Steve melihat kawannya rendra terbaring tidak berdaya di samping pohon beringin, sedangkan hamid sedang berusaha melindungi mereka berdua dengan menembaki zombie-zombie tersebut. "Steve! bangun! kita harus segera pergi!" suruh hamid. "Bagaimana dengan rendra?" tanya steve yang sedang mencoba berdiri. "Tidak ada lagi harapan! ayo kita pergi sebelum mereka datang kesini!" suruh hamid. "Ma'afkan aku rendra!" kata steve yang sedang berlari menjauh dan menembaki zombie-zombie yang mengikutinya. Steve dan hamid sudah berlari jauh, kini tujuan zombie-zombie lapar ini menuju kepada hendra, zombie-zombie itu berhenti mengejar steve dan hamid, dan mengarah ke arah rendra. Perlahan mata rendra terbuka, dia melihat ada zombie di sekelilingnya, tanpa pikir panjang ia pun memanjat pohon beringin yang berada didekatnya dan menembakan peluru ke atas langit untuk menandakan bahwa dia masih hidup. Tanda itu terdengar oleh Mark, seorang kuli bangunan yang bekerja di bagian pusat persenjataan swasta, mark langsung pergi kearah suara tembakan dan langsung menembaki zombie-zombie itu dengan senapan mesin SAW, "TRTRTRTTTTT!!!!!", tembakan itu meratakan seluruh zombie yang berada di dekat pohon beringin tempat rendra berlindung. "Hei!, kau yang diatas! apa kau baik-baik saja?" tanya mark. "Terimakasih aku baik-baik saja" jawab rendra. Tiba-tiba dari belakang satu zombie ingin menggigit mark namun, "TAR!", tembakan dari m16 milik rendra mengenai kepala zombie itu, "Kini kita impas..." kata rendra.
Rendra turun dari pohon itu ketika rendra turun, teman-temannya, steve dan hamid datang. "Rendra maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu maafkan aku" pinta maaf steve. "Tidak apa-apa lagi pula aku selamat" kata rendra. "Hamid!?" teriak mark terkejut, "bukankah kau sudah mati? bagaimana kau bisa selamat?" tanya mark. "Kalian saling mengenal?" tanya rendra. "Iya, dia adalah saudara sepupuku" jawab hamid. "Ma'af, sebelumnya namaku adalah mark" kata mark memperkenalkan dirinya. "Jadi sepertinya kita harus memberi mark vaksin kan?" kata steve. "Tidak perlu, aku sudah di vaksin sejak virus ini muncul" kata mark.
Setelah lima tahun virus ini pun mulai menghilang karena banyak orang yang sudah divaksin oleh rendra dan steve jagu hamid dan mark, mereka berjasa karena mempertaruhkan hidup mereka untuk menyembuhkan dunia yang terkena virus tersebut. Pemilik perusahaan hibrid corp. akhirnya dihukum mati karena kelalaiannya. Satu-persatu para zombie diburu dan akhirnya musnah dari muka bumi ini. Manusia akhirnya membangun kembali peradaban mereka yang sempat hancur dan atas jasa rendra, steve, dan hamid, mereka di beri kekuasaan sebagai kepala pusat komando pertahanan. Akhirnya penderitaan ini pun berakhir dengan cara yang mengerikan.
THE END.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar